Histori Masjid Raya Ganting Padang

Sebelum renovasi dilakukan pada tahun 2010, kerusakan pada masjid ini menyebabkan gangguan pada aktivitas ibadah, sehingga kegiatan ibadah harus dilakukan di halaman masjid untuk sementara waktu.

Tiang-tiangnya berbentuk heksagonal dan terbuat dari bata merah dengan lem kapur dicampur dengan putih telur, sepenuhnya tanpa tulang besi. Jumlah kutub melambangkan jumlah rasul, 25 totalnya, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.

Histori Masjid Raya Ganting Padang

Pembangunan Masjid Ganting diprakarsai oleh Angku Gapuak (pedagang), Angku Sheikh Haji Uma (kepala desa Ganting) dan Angku Sheikh Kapalo Koto (ulama). Selain dari orang Minangkabau, masjid ini juga menerima bantuan pembangunan dari orang-orang Cina yang dipimpin oleh Kapten Lo Chian Ko.

Baca Juga: Rahasia Di Balik Masjid Di Kota Pangkalpinang

Sementara militer Belanda juga membantu membangun masjid Genie Corps dengan posisi komandan Genis Sumatra Barat dan markas Tapanuli tidak jauh dari lokasi bangunan.

Pengamat sejarah yang juga guru STKIP Abdi Payakumbuh Pendidikan Fikrul Hanif Sufyan telah meneliti sejarah masjid kuno di Sumatera Barat.

Penelitian ini dilakukan bekerja sama dengan Prof. Azrin dari Fakultas Teknik Universitas Nasional Malaysia. Dengan dukungan banyak pihak dan bantuan para pedagang dan cendekiawan dari Minangkabau, pembangunan Masjid Agung Gantiang akhirnya selesai pada tahun 1810.

Para pemimpin masyarakat setempat sepakat untuk membangun di atas tanah 7 wakaf, yang diserahkan oleh Gubernur Jenderal Ragen Bakh (penguasa Hindia Belanda di Sumatra Barat saat itu).

Ada dekorasi tiang pseudo ganda di enam pintu dari timur, kecuali di tengah, sebuah bangunan mimbar yang juga menonjol dengan pintu berjeruji. Mimbar berukuran 220 cm x 120 cm x 275 cm hanya digunakan dalam pelaksanaan sholat Ied. Di sebelah pintu ada juga jendela dengan jeruji besi di sisi utara dan selatan.

Ini bisa dilihat dari dinding dan lantai masjid yang ditutupi dengan batu kapur putih panjang dan semen merah mulai ditutup dengan semen. Lapisan itu diimpor dari Jerman oleh agen Belanda, Jacobson van den Berg.

Untuk mengangkut semen ke pelabuhan Teluk Bayur, Belanda membuka jalan batu melalui tanah Masjid Agung Ganting. Pengembangan meliputi perluasan fasad setinggi 20 meter dan pembangunan masjid dengan gaya Portugis.

Ada empat pintu masuk ke ruang utama di sisi timur (dari teras depan) dan dua di sisi utara dan selatan (dari teras samping). Pintu masuk memiliki dua pintu kayu dan di ambang atas dihiasi dengan lengkungan kipas.

Selain itu, lantai masjid telah diganti dengan semen yang diimpor dari Jerman. Pada tahun 1900 pemasangan ubin dari Belanda dimulai melalui NV Jacobson van den Berg. Pemasangan ubin dilakukan oleh pengrajin yang langsung dipekerjakan oleh pabrik dan selesai pada tahun 1910.

Setelah ada pembicara, muzawir tidak lagi digunakan, jadi penjaga masjid menutup gedung pada tahun 1974 (atau 1978). Masjid Agung Ganting juga menjadi titik keberangkatan bagi peziarah di Sumatera Tengah (sekarang Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau).

Dengan beroperasinya pelabuhan Emma Haven, sekarang disebut Teluk Bayur, Masjid Raya Ganting adalah tempat pertama di Sumatera Tengah untuk memulai ziarah. Selain itu, masjid ini adalah salah satu dari 608 tempat ibadah di Sumatera Barat yang rusak parah akibat gempa 30 September 2009.

Termasuk serangan terhadap barak (barak, asrama) dari unit Gurkha Inggris yang merenggut banyak nyawa. Dia tinggal di Ganting selama beberapa dekade dan menikahi seorang wanita Minang, dengan tujuh putra.

Moskow adalah wakaf untuk tujuh suku yang diserahkan oleh Gubernur Jenderal Ragen Bakh, penguasa Hindia Belanda saat itu di Sumatra Barat. “Pembangunan masjid ini mendapat dukungan dan bantuan dari para pedagang, ulama Minangkabau baik di Sumatera Barat maupun di luar Sumatera Barat,” katanya. Uniknya, atap Masjid Agung Ganting akan lebih seperti biara dalam penilaian.

Di sisi kanan dan kiri masjid terdapat kubah, khas bangunan Persia. Ketika kaki melangkah masuk, pengunjung langsung disambut dengan ukiran kayu Minangkabau dan ukiran kayu dari Timur Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *